Saturday, October 5, 2013

DIET BAGI PENDERITA HIPERTENSI


Hipertensi merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik maupun tekanan darah diastolik ≥140/90 mmHg. Hipertensi merupakan suatu penyakit kronis yang dapat menimbulkan kerusakan pada berbagai organ tubuh seperti jantung, ginjal, dan otak. Penyakit ini juga sering merupakan pembunuh tersembunyi ( the silent killer ), karena dapat menimbulkan kematian secara mendadak serta angka kejadian dari penyakit tersebut cenderung bertambah pada masa yang akan datang. Dari Survei Kesehatan Rumah Tangga pada tahun 1995, angka kejadian hipertensi mencapai 8,3% dengan menggunakan standar pengukuran tekanan darah yang ditetapkan oleh WHO (organisasi kesehatan dunia) yaitu 160/90 mm Hg, kemudian pada tahun 2000 angka kejadian meningkat menjadi 21%, dan selanjutnya angka kejadian hipertensi diperkirakan akan terus meningkat sampai diperkirakan pada tahun 2015 angkanya meningkat menjadi 37% pada tahun 2015.
Hipertensi dapat diakibatkan karena berbagai macam faktor di mana dapat dibagi menjadi faktor risiko yang dapat dimodifikasi, serta faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi antara lain jumlah atau kadar Natrium yang dikonsumsi (dalam hal ini terutama melalui garam), gaya hidup (termasuk olahraga serta minum alkohol), serta obesitas. Sedangkan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti ras, dan genetika. Dari kedua faktor risiko di atas, maka penatalaksanaan hipertensi yang paling penting adalah dengan mengubah atau memperbaiki faktor risiko yang bisa dimodifikasi ini salah satunya adalah dalam pengaturan pola hidup dan pemilihan makanan.
Pengaturan diet dan gaya hidup ini bertujuan untuk dapat menurunkan tekanan darah secara bertahap, serta mempertahankan tekanan darah dalam keadaan normal. Selain itu dapat menurunkan kadar kolesterol darah, menurunkan obesitas, dan kadar asam urat darah. Prinsip diet pada penderita hipertensi adalah dengan mengatur jenis dan komposisi makanan yang dimakan tetap dalam kompisisi gizi yang seimbang, dan membatasi jumlah Natrium (garam) dalam hal ini yang termasuk golongan garam adalah garam dapur. Oleh karena itu konsumsi garam dapur setiap hari tidak melebihi kisaran ¼  sampai ½ sendok teh per hari.
Berdasarkan DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) yang digunakan pada penelitian di Institut Kesehatan Amerika Serikat terbukti memberikan manfaat tambahan untuk mengurangi tekanan darah pada penderita hipertensi hanya dalam 14 hari. Rencana diet ini didasarkan pada susunan makanan yang kaya buah-buahan dan sayuran, susu rendah lemak atau tanpa lemak, dan biji-bijian dengan komposisi sebagai berikut : beras dan serealia sebanyak 7-8 porsi, buah-buahan sebanyak 4-5 porsi, sayur-sayuran sebanyak 4-5 porsi, susu serta produk susu rendah lemak sebanyak 2-3 porsi, daging unggas atau ikan sebanyak 2-3 porsi, kacang-kacangan atau biji-bijian, dan kedelai sebanyak 4-5 porsi per minggu. Komposisi menu ini dapat memberikan asupan energi sebesar 2000 kalori per hari.

Selain pengaturan diet seperti yang tersebut sebelumnya, suplementasi anti oksidan juga dapat diberikan pada pasien hipertensi. Beberapa suplementasi anti oksidan yang sering dipergunakan di masyarakat seperti asam folat, vitamin B6, vitamin B12, kacang kedelai, dan tempe. Kadar asam folat yang rendah berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner dan kadar vitamin B6 yang rendah juga berkaitan dengan peningkatan risiko penyumbatan lemak pada pembuluh darah. Kacang kedelai juga sangat bermanfaat sebagai anti oksidan di mana dapat menurunkan kadar kolesterol total dalam darah. Dengan pengaturan diet yang baik, dan terapi farmakologis (obat-obatan) yang sesuai dengan jumlah dosis yang tepat, diharapkan masing-masing penderita bisa melaksanakannya dengan baik.


Oleh : dr. Ida Bagus Aditya Nugraha, S.Ked